Hari terakhir ramadhan disibukkan dengan membelanjakan harta untuk zakat fitr. Sebuah langkah akhir untuk menyempurnakan ibadah puasa. Satu yang dirasakan adalah keengganan untuk mengeluarkan harta karena memiliki keinginan tertentu, layaknya seorang bocah yang merengek meminta mainan. Tapi kali ini nafsu harus kalah demi menyempurnakan dan menyucikan diri agar tidak terbiasa terikat dengan harta atau nafsu. Sebenarnya ini adalah latihan, dan praktek yang sesungguhnya setalah ramadhan ini selesai. Seberapa lama akan bertahan?
Ulang tahun dua kali dalam sebulan. Ya itulah yang sempat terpikir oleh saya setelah mengetahui secara kalender hijriah saya lahir pada tanggal 25 Ramadhan. Dan saya memikirkNya.
Tahun ini tengah terjadi global terorisme yang berasal dari China dengan virus Covid19. Satu per satu korban dikabarkan berjatuhan. Ketika kepalsuan ikut berperan dengan gampangnya setiap orang yang sakit disebut terjangkit virus itu. Cerita palsu dalam media sosial juga memperparahnya. Lantas kapan bagian saya?
Kematian adalah hal yang lumrah yang terjadi pada kehidupan. Karena setiap makhluk memiliki umurnya. Hanya Dia yang memegang kendali atas umur makhluknya. Meskipun berlindung dalam bunker yang berlapis-lapis, memakan segala macam makanan yang dipercaya memperpanjang hidup, atau lari secepat dan sejauh mungkin. Tidak ada yang dapat lepas dariNya. Ketika ajal datang, tidak ada yang mampu menolaknya kecuali Dia.
Orang yang takut mati adalah orang yang terlalu senang dengan dunia. Mencoba menutupi ketakutannya dengan bergantung pada semua yang dia punya. Tapi tidak ada yang dapat mengalahkanNya. Hanya ada satu cara yang pasti yaitu ridhaNya mampu menyelamatkan hambanya dari neraka yang dia buat sendiri. Jadi hidup ini bukan mengenai bertahan dalam kondisi seperti ini. Tapi bagaimana meniti jalan kembali padaNya dalam keadaan apa.
Cahaya kecil ini sudah menjelajahi bumi dalam pencarian dari sebuah keyakinan bahwa ada cahaya yang besar karena dia bersumber darinya. Dalam petualangannya dia menemui cahaya-cahaya yang lebih besar darinya
yang memberikan kekuatan agar cahaya ini dapat menyebar lebih jauh sehingga dapat menemukan cahaya yang besar itu.
Sejak saat itu tersadar bahwa cahaya besar tersebut adalah dirinya. Namun ada yang membuatnya hampir meredup karena suatu saat cahaya ini akan diminta kembali oleh pemiliknya. Tapi itu tak mengapa karena
sudah melayani apa yang pemilik inginkan, yaitu mengantarkanNya ke dunia yang gelap ini agar para cahaya kecil dapat kembali ke sang pemiliknya.
Dengan cahaya yang terang seperti matahari menyinari bumi semuanya terlihat jelas. Namun cahaya tertabrak akan membuat bayangan yang akan menutupi kejelasan itu. Dalam bayangan itulah orang mencoba bersembunyi
tapi tetap saja terlihat selama ada cahaya yang menyinarinya. Tinggal pilih tetap berada dalam cahaya atau berlindung dalam bayangan?
Begitulah Quran yang telah mengubah cara pandang saya terhadap dunia ini, yang tidak akan pernah sama lagi, tak akan tertutup. Tapi dalam hati meyakini tidak akan pernah lepas dari pengawasannya, meskipun
bersembunyi hati tetap mengetahuinya itu salah. Begitulah Dia selalu ada didekat tapi diri meniadakanNya.
Pada tahun ini saya mempelajari agama ini. Setelah muak dengan semua yang terjadi. Pasti ada petunjuk untuk ini semua. Seperti haus akan ilmu, dengan cahaya yang mungil ini saya mencoba menyusuri kembali.
Ibadah yang selama ini disebut sholat tapi tidak pernah ada yang menjelaskannya sampai berakhir pada Rasulullah dan Quran itu sendiri. Sehingga cahaya ini menguat. Namun menjaga cahaya ini cukup sulit karena
kondisi dunia ini seperti badai yang tidak pernah berhenti.
Merenungi diri sendiri setelah berperang di peperangan setiap orang. Teman, saudara, orang tua. Ketika semua terkuak, pertanyaan besar muncul untuk apa saya di sini, pasti ada tujuan tertentu saya didatangkan
dalam kehidupan ini. Ada misi penting yang jelas tapi tersembunyi. Bagaikan setitik cahaya yang berusaha menyinari gelapnya dunia dan mencari siapa yang membutuhkan.
Secara tidak sadar saya melewatkannya dengan kesibukan sendiri. Semua sudah berakhir ketika takbir berkumandang yang saya ingat rasanya baru saja kemarin mulai sekarang sudah harus berakhir. Rasa sesal ingin
mengulanginya kembali tapi itu tidak mungkin. Waktu terus berjalan maju dan tidak pernah menunggu siapa pun sampai akhirnya.
Merupakan bulan yang berat bagi saya. Bukan karena menahan lapar, emosi, atau nafsu. Melainkan seringnya lepas kendali alias labil. Apakah ini salah satunya arti darinya? Sebuah perjuangan mempertahankan diri agar tetap pada kesadaran, kewarasan. Sungguh pedih rasanya seperti sadar mengendarai mobil yang oleng mencoba menghentikan tapi gagal dan masuk jurang.
Pertama kalinya merasakan ada yang salah dengan lingkungan ini, di saat bulan ramadhan tinggal menghitung menuju idl fitr. Apa lagi kalau bukan orang berlomba-lomba menghabiskan uang demi satu hari yang konyol.
Membeli pakaian paling bagus, membeli banyak bahan makanan, atau jajanan, dan semua yang bisa dibeli jangan sampai kelewatan. Mayoritas turun ke jalan, sampai masjid atau mushola yang sholat tarawih hanya satu baris. Di sinilah
perputaran ekonomi deras. Tapi buat saya pribadi tidak masuk akal. Karena semuanya akan terlupakan besok harinya. Selalu disuruh tapi tidak pernah mengerti maknanya. Membentuk sebuah lubang besar yang kosong. Mulailah bertanya
apa arti puasa satu bulan belakangan ini?