Pages - Menu

Rabu, 29 April 2026

Bioterorisme: Penjajahan Global

Sebuah tim polisi ditugaskan dalam kasus penyakit menular. Petunjuk menuntun mereka masuk kedalam sebuah mansion yang terpencil dan kosong. Ditengah penyelidikan dalam rumah mewah yang besar ini, anggotanya menghilang satu per satu, bahkan dari kontak radio mereka tidak memberi jawaban sama sekali. Kejanggalan ini mulai terungkap saat para anggota ditemukan tewas terbunuh. Jejak kematian mereka menuntun tim polisi yang tersisa jauh ke dalam laboratorium yang berdiri dibawah tanah mansion ini. Penghuni kediaman ini menjadi penyebab meninggalnya para anggota tim polisi tersebut, mereka berwujud mayat hidup, dan monster hasil dari kegagalan eksperimen. Tidak ada jalan keluar kecuali menghancurkan kediaman dan laboratorium. Dia sukses dengan rencananya namun, ada satu mayat hidup yang berhasil kabur dan menuju kota.

Biohazard adalah sebuah game yang dirilis pada tahun 1997, menyajikan fantasi terror. Semua berawal dari hasil kecelakaan kerja yang berakibat fatal yang mampu menghancurkan sebuah kota. Tidak berhenti disitu, bahayanya sampai ke tingkat negara. Ditengah kekacauan ini ada perusahaan yang mengambil keuntungan dengan cara menjual vaksin. Tujuannya agar tidak tertular penyakit yang ganas ini, dan mencegah terjadinya pemusnahan masal dengan nuklir. Di sisi lain ada perusahaan yang menawarkan vaksin yang berupa kekuatan untuk melawan mayat hidup dan monster, dengan merubah manusia biasa menjadi tantara super yang memiliki stamina tanpa batas dan kebal dari apapun. Cara yang dipakai sama dengan yang sebelumnya menggunakan virus yang sama, yang dimodifikasi agar lebih jinak. Namun kegagalan terulang Kembali dan memperparah keadaan.

Pada tahun 2019 ditemukan SARS-CoV2, sebuah varian virus korona baru yang mana ini adalah virus flu yang memperparah sakit pernafasan. Pertama kali dideteksi di Wuhan, Hubei, China. Dikabarkan satu pasien kabur dari isolasi secara misterius, berawal dari situlah semua terjadi. China pada awalnya bungkam, mungkin mencoba menangani sendiri agar tidak membuat panik dunia. Namun menyepelekan penanganan dan telatnya kerja para pemerintah dunia membuat kekacauan yang dikhawatirkan terjadi.

Pemerintah Indonesia terlalu sombong saat kabar ini sudah tersebar ke berbagai negara. Ketika dunia sudah telat, Indonesia lebih telat lagi. kekacauan menjadi lebih kacau dengan rakyatnya yang goblok, dan latah, dan mudah terkena hoax. Hidup dalam kepanikan dan kekhawatiran membuat mereka tidak bisa berpikir secara sehat. Sedangkan pemerintah terus menekan dengan aturan-aturan yang tidak masuk akal, dan dipaksakan tanpa memberi solusi. Semua ini hanya memperparah. Bahkan sekelas Ulama pun ikut termakan kekacauan ini dengan melakukan hal yang sama. 

Sektor yang paling terkena dampaknya adalah ekonomi, hampir saja semua berhenti total dengan phk, kerja dirumah, dan pembatasan kerja sampai aktivitas masyarakat ikut kena imbasnya. Penjara masal pun terjadi, lockdown adalah istilah yang dipakai. Jalanan sepi kendara seperti momen lebaran saat orang mudik. Selama satu bulan semua berjalan mulus, tapi setelahnya manusia yang biasa bergerak Ketika disuruh diam akan memberontak. Sehingga kekacauan yang baru muncul Kembali, masyarakat tidak lagi takut dengan virus melainkan kelangsungan hidup mereka sendiri.
"Diam mati, bergerak mati!"
Ketika nyawa terancam, insting bertahan hidup bangkit. Masyarakat kalangan bawah tersadarkan dengan kondisi seperti ini mereka juga terbunuh secara pelan. Beberapa aturan pun longgar dengan syarat individu memakai alat pelindung diri, dan tersertifikasi vaksi. Dari sinilah binis medis mulai berjalan. Mendengar seperti ini kalangan bawah-menengah mulai menyerbu para penjual medis, dan pos vaksin. Dalam kekacauan yang baru ini, muncul para pedagang yang sengaja memanfaatkannya untuk meraup keuntungan besar. Media pun tidak tinggal diam, mereka bermain peran dalam menjual dan memasarkan produk, dengan mempermainkan pikiran orang-orang menggunakan narasinya terhadap suatu produk.

Dunia memang terlihat sepi, damai, namun dalam proyeksi pikiran para penduduknya adalah kekacuan diatas kekacauan, seperti dalam labirin yang mereka  terkurung didalamnya dengan semua narasi media yang tidak terarah, dan opini orang yang tidak ada titik terang, kejelasan, kepastian yang perlahan membuat sakit, dan sampai dibunuh dengan dikriminalisasikan atas nama pasien COVID19. Lebih jahatnya lagi, Ketika petugas medis yang rentan terpapar karena tanpa henti sibuk mengurusi para pansien, justru menjadi target Utama dari wabah ini.

vaksin dibuat langka, alat pelindung diri harga tinggi, korban petugas medis, dan masyarakat. Semua dibungkus rapi dan tanpa rasa bersalah demi menunjukan sebuah kekuatan negara. Kedua cerita fantasi, dan kenyataan yang berjalan selaras hanya karena perusahaan penjual obat, dan alat medis, rela mengibarkan bendera perang biologis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.